Pages

Sep 25, 2011

Blue story in the night sky…

Aku beranjak dari tempat tidur, mataku masih belum bisa terpejam msekipun jam telah menunjukkan pukul 2 malam. Kuambil telepon genggam dan kembali beringsut ke tempat tidurku yang mungil.
“Hyun, mengapa kau tak membalas pesan dan telponku?” kataku lirih sambil melihat foto-foto mesra kami.
“Hyun…. Tak rindukah kau padaku?” tanyaku lagi meski tanpa jawaban hingga akhirnya hanya linangan air mata yang menetes sebagai tanpa pertanyaan tanpa jawaban.

Matahari menyinari kamarku dan langsung menyentuh wajahku, jam telah menunjukkan pukul 8 pagi. Segera kulihat telepon genggam itu, apakah sudah ada jawaban dari Hyun? Ya, ada sebuah pesan dari Hyun.
“Seoul… maafkan aku yang selama ini tidak memberikan kabar kepadamu. Aku akan jelaskan semuanya. Kita bertemu di Coffee Café siang ini ya. Miss you”

Secercah senyuman terpancar dari wajahku ketika membaca pesan dari Hyun itu. Bergegas aku bersiap, merapikan apartemen dan memilih gaun simple kesukaan Hyun.

Siang itu, Hyun telah menunggu di sebuah sofa mungil. Masih memandangi kesibukan para pejalan kaki di trotoar. Pandangannya kosong, seperti mencari sesuatu yang telah lama hilang. Lama dia termenung dan membiarkan moccachinno-nya dingin.

Aku datang dengan manis dan duduk di depan Hyun. Hyun terperanjat, kaget, seperti baru pertama kali bertemu denganku. Hyun memandangiku yang terlihat cantik dan ceria, meskipun mataku terlihat lebih gelap dari biasanya. Hyun masih memperhatikanku yang tersenyum manis kepadanya.

“Hyun…. Mengapa melamun? Apakah kau tidak suka dengan penampilanku?”
“Ah, tidak Seoul” jawab Hyun sambil tersenyum, senyum yang sedikit dipaksakan. “Kau terlihat semakin cantik. Tapi, mengapa ada lingkaran hitam di matamu?”
“Hyuuunnn…. Aku tidak bisa tidur karna memikirkanmu. Kau tidak membalas sms dan telpon dariku? Beberapa hari ini aku berpikir, apakah aku telah melakukan kesalahan dan melukaimu? Apakah kau telah bosan denganku? Apakah kau menyesal melamarku?” jawabku sedih, hampir menitikkan air mata.

Sesaat kemudian pelayan datang menghampiri. Aku memesan segelas coklat hangat, minuman favoritku. Hyun masih tidak melepaskan pandangannya dari ku.

“Hyuuunnn…. Ada apa denganmu?” tanyaku lirih.
“Ah, tidak ada apa-apa Seoul” jawab Hyun sambil meraih tanganku. “Aku hanya terlalu sibuk bekerja, terlalu banyak pekerjaan yang diberikan pimpinan kepadaku. Maafkan aku…”
Aku masih terdiam, berusaha untuk mengerti meskipun banyak pertanyaan yang mengganggu pikiranku. Aku masih mendengarkan penjelasan Hyun dengan seksama hingga telepon genggamny berbunyi. Hyun membaca pesan yang baru diterimanya.

“Ada apa Hyun? Ada masalahkah?” tanyaku.
“Tidak ada Seoul, tapi aku harus segera pergi. Maaf, aku tidak bisa menemanimu” jawab Hyun singkat.
“Tapi Hyuuun…”
Hyun hanya mengecup keningku sejenak dan segera berlalu pergi meninggalkan aku yang terpaku sendirian. “Ada apa dengan Hyun? Mengapa dia jadi aneh seperti ini?” tanyaku dalam hati.

Gontai ku tinggalkan café itu. Aku urungkan untuk pulang ke apartemen. Hari ini adalah hari Minggu yang cerah, seharusnya aku bisa berjalan-jalan dan bersenang-senang bersama Hyun. Pikiranku yang mengkhayal membawaku berjalan-jalan di pelataran toko, berusaha membaur dengan keramaian kota.

Seketika aku melihat seorang wanita cantik berjalan beriringan dengan … Hyun! Ah, mungkin mataku yang rabun dan salah. Ku tajamkan mataku kembali, ya, itu memang Hyun, Hyunku, tunanganku…. Lemas rasanya kaki ini. Mereka tidak melihatku, jadi aku berusaha menghilangkan diri dari pandangan mereka.

“Siapa wanita itu? Mengapa Hyun lebih memilih pergi bersamanya daripada bersamaku? Mengapa Hyun berbuat seperti ini?” terlalu banyak pertanyaan yang semakin bertambah seiring dengan langkah mereka memasuki restoran Thailand.

Lambat laun mereka menghilang dari pandangan mataku. Aku hampir tidak bisa menahan air mata. Aku berlari dan mencari taxi, aku pulang ke apartemen dengan hati terluka.

***
Hari Senin, kembali bekerja seperti biasanya meski hati terluka. Aku bangun masih dengan mata mengantuk, masih dengan berbagai pertanyaan yang sama, masih memikirkan Hyun, masih bingung apa yang sebenarnya terjadi.

“Seoul…. Mengapa hari ini kau tampak murung?” tanya Jeon, rekan kerjaku.
“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja” jawabku singkat sambil mengulum senyum.
“Baiklah. Seoul, mau ikut tidak ke acara senang-senang nanti malam? Aku lihat kau butuh sedikit hiburan, karena aku tahu Hyun mulai jarang menghubungimu kan?”
“Ah, Jeon, itu perasaanmu saja” tepisku meskipun memang itu yang aku rasakan.
“Ayo, kau mau ikut tidak? Pokoknya nanti malam kita akan bersenang-senang dan melupakan kesedihan. Aku akan membuatmu tersenyum lagi” hibur Jeon.
Aku terdiam, aku pikir, ada benarnya juga apa yang diucapkan oleh Jeon, “Hhhmmm, baiklah, aku akan ikut dengan kalian”

Mungkin aku butuh sedikit hiburan agar pikiranku lebih fresh dan agar aku bisa menemukan solusi untuk hubungan kami ini. Aku pergi bersama beberapa teman kantor untuk berkaraoke, bersenang-senang dan melupakan sejenak masalahku.

Hyun menelepon ketika aku masih berada di ruang karaoke, “Hallo…. Ya Hyun” jawabku dan langsung beranjak keluar dari ruang itu.
“Seoul, kau di mana?”
“Oh, aku sedang bersama Jeon dan teman-teman yang lain. Kami ada di tempat karaoke”
“Ooo begitu. Ya sudah”
Hanya itu jawaban dari Hyun dan langsung mematikan telponnya. Seketika aku terperanjat, ada apa lagi ini? Mengapa tiba-tiba dia berbuat seperti itu? Dengan rasa penasaran, ku telepon balik Hyun. Tuuut… tuuut… tuuut…. Beberapa kali aku menelponnya, tapi tidak diangkat. Aku mulai beringsut kecewa dan marah.

“Seoul…. Dimana kau? Oh, ternyata di sini” Jeon mencariku “Kenapa? Hyun membuat masalah denganmu lagi ya? Sudahlah, laki-laki memang seperti itu. Lupakan saja dia, ayo kita bersenang-senang lagi” ajak Jeon.

Aku hanya diam dan mengikuti langkah Jeon. Tubuhku memang di dalam ruang karaoke, tapi pikiranku entah melayang kemana. Pandanganku kosong, meskipun teman-teman menghiburku tapi tetap saja ada yang terasa hilang dan aneh.

Aku pulang dalam keadaan setengah mabuk sake, aku stress dan hampir depresi karena memikirkan Hyun dan memikirkan hubungan kami. Jeon mengantarku sampai ke apartemen dan langsung pulang setelah membiarkanku berbaring di tempat tidur.

Aku belum tidur, ku lirik cincin tunangan pemberian Hyun. Masih tampak cantik dan manis berkilau. Seketika aku kembali flash back saat kami melangsungkan pertunangan, pertunangan sederhana yang hanya disaksikan oleh eomma Hyun, mama dan papaku. Aku meminta cincin bermata mutiara yang berwarna putih gading dan Hyun memberikannya, aku senang. Aku ingat saat-saat bahagia itu.

Air mataku kembali mengalir. “Bodoh! Kenapa aku menangis?” sanggahku untuk menguatkan hati sendiri. “Hyuuuunnnn….” Panggilku dalam isak, hingga aku tertidur masih dalam kesedihan.

***
Jam weker kembali membangunkan dan mengingatkanku untuk segera beraktifitas. “Ouch…” seruku ketika mengangkat kepala. Oh ya, tadi malam aku terlalu banyak minum sake, jadi kepalaku pusing begini.

Kupaksakan bangun dan segera bersiap untuk berangkat kerja. Sesampainya di kantor, Jeon menghampiriku.
“Seoul…. Bagaimana keadaanmu? Semalam sepertinya kau sedikit mabuk?” cemas Jeon.
“Ya, kepalaku masih sedikit pusing. Tapi aku tidak apa-apa” jawabku dengan senyuman.
“Oh baiklah. Aku harap kau tidak terlalu tenggelam dalam pikiran dan kesedihanmu karena Hyun” cemas Jeon lagi.
Aku hanya menganggukkan kepala dan tersenyum. Jeon melangkah meninggalkan aku yang mulai terlihat sibuk dengan pekerjaan.

Telepon genggamku bordering pelan, oh, ada telepon masuk. Aku masih berharap kalau telepon itu dari Hyun, karena sampai sekarang pun Hyun belum membalas pesan atau mengangkat telepon dariku.
“Seoul, bagaimana kabarmu?” tanya eomma Hyun di seberang sana.
“Baik eomma” jawabku singkat dengan nada yang riang, berusaha menutupi kegalauan perasaanku.
“Eomma ingin bertemu denganmu. Apakah kau ada waktu?”
“Tentu saja eomma. Bagaimana kalau sore ini?”
“Baiklah Seoul. Sampai nanti sore” eomma merasa senang akan bertemu denganku.

Eomma Hyun memang menyukaiku, katanya, aku adalah calon menantu yang baik dan sangat menghormati orang tua. Aku senang dan bahagia karena diterima dengan baik oleh eomma, tapi, sejenak aku mulai gamang, haruskah aku menceritakan apa masalah kami? Ah, aku rasa tidak usah, jangan membuat eomma dan yang lainnya merasa cemas terhadap masalah kami. Akhirnya, aku memutuskan kalau aku tidak akan menceritakannya kepada eomma.

“Eomma…” sapaku ramah ketika melihat eomma datang.
“Seoul, kau semakin terlihat cantik” puji eomma.
Seketika kami berdua duduk berhadapan, eomma adalah wanita paruh baya yang sederhana namun tetap telrihat elegan dan cantik di usia yang mulai senja. Kami saling bertukar cerita dan tertawa bersama.

“Oh ya, bagaimana kabar kalian? Mengapa Hyun tidak mengantarmu dan menemuiku?” tanya eomma.
“Kami baik-baik saja eomma. Hyun sedang sibuk sekarang, banyak sekali pekerjaan yang diberikan oleh pimpinannya sehingga dia tidak memiliki banyak waktu luang” jelasku masih dengan mimik yang tenang.
“Oh teganya dia melakukan ini kepadamu” marah eomma
“Tidak apa eomma, aku mengerti kesibukannya bekerja” seruku berusaha menenangkan eomma.
Eomma hanya diam dan berusaha tenang.

Sore itu, aku bertemu dan mengobrol dengan eomma. Eomma berkata, bahwa dia masih ada urusan dan janji sehinga kami pun berpisah, eomma pergi bersama supir yang selalu setia mengantarnya dan aku pun pulang ke apartemen dengan perasaan yang kembali bercampur aduk.

Sengaja aku ingin berjalan kaki, menikmati keriuhan kota di sore hari. Saat-saat seperti ini membuatku bisa berpikir dan menelaah setiap keganjilan masalah. Oh ya, mengapa eomma tiba-tiba ingin bertemu dan mengobrol denganku ya? Memang tadi eomma mengatakan bahwa beliau merasa rindu kepadaku dan Hyun. Ada apa sebenarnya? Kembali otakku dipenuhi oleh berbagai pertanyaan.

***
“Seoul, bisakah kau datang ke Coffee Café sore ini?” tanya eomma.
“Ada apa eomma? Apakah ada masalah?” tanyaku cemas.
“Tidak ada apa-apa Seoul, eomma hanya ingin bertemu denganmu lagi”
“Baiklah eomma, aku akan segera sampai di sana” jawabku.

Aku sedikit terlambat menuju Coffee Café karena kemacetan lalu lintas yang begitu padat di kota ini. Saat aku telah sampai dan menuju k earah eomma, ku lihat sesosok pria di sana, ya, itu adalah Hyun.
“Seoul…” kata Hyun lirih.
“Duduklah Seoul, ada yang ingin disampaikan oleh Hyun kepadamu” perintah eomma.
Aku hanya diam dan memandangi wajah eomma dan Hyun bergantian. Hyun hanya tertunduk dan sesekali melihat ke arah jalanan yang semakin ramai. Eomma juga diam. Suasana hening.

“Adakah yang mau kau tanyakan Seoul?” tanya eomma.
“Hhhmmm… aku tidak ingin bertanya eomma, aku hanya ingin mendengar. Aku ingin mendengar penjelasan dari Hyun” jawabku, masih memandangi wajah Hyun yang tak berani menatapku. Wajah yang terlihat tirus, wajah yang selalu aku rindukan, wajah yang membuatku menangis.
Hyun tak bergeming. Eomma beringkut bangkit dari tempat duduknya.

“Hyun, Seoul, kalian sudah dewasa jadi eomma akan meninggalkan kalian berdua untuk menyelesaikan apa yang seharusnya kalian selesaikan, memperbaiki apa yang seharusnya kalian perbaiki” nasehat eomma sesaat sebelum meninggalkan kami.

Aku beringsut berdiri dan memberikan hormat kepada eomma, Hyun juga melakukan hal yang sama. Setelah eomma menghilang dari pandangan kami, aku dan Hyun kembali duduk, masih terdiam. Dengan teliti ku telusuri raut wajah Hyun, ku pandangi dia, aku memang masih sangat merindukannya meskipun banyak petanyaan tanpa jawaban yang bersarang di otakku.

Hyun kembali memandangi keramaian jalan, seolah ingin menghindar dari tatapanku. Hyun menghembuskan nafas berat beberapa kali seolah sedang mengumpulkan keberaniannya. Di teguknya moccachinno yang terletak di hadapannya dan kemudian memandangku dengan tatapan sesal.

“Seoul…. Aku mengaku kalau aku salah. Seoul, aku menyesal karena tidak memperlakukanmu dengan baik, aku menyesal Seoul…” ratap Hyun sambil meraih tanganku.
Ku biarkan Hyun berbicara, aku hanya ingin mendengar apa panjelasannya.
“Seoul…. Maafkan aku… aku telah… aku telah… “ ratap Hyun kembali dan melihat ke arahku yang masih tidak bergeming.
“Aku… telah mengkhianatimu Seoul…” Hyun menundukkan pandangannya.
“Lama aku terdiam, lama kami terdiam, genggaman Hyun terasa semakin kencang, aku biarkan, aku biarkan waktu berlalu begitu saja. Sampai aku yang mengatakan apa yang aku lihat beberapa waktu yang lalu, aku ceritakan apa yang aku lihat antara Hyun dan wanita itu, aku mengatakan rasa kesakithatianku, kekecewaanku, kegelisahanku, semuanya aku ungkapkan ke Hyun dan air mataku tak terbendung lagi.

Hyun berdiri dan memelukku, erat, aku pun memeluknya.
“Seoul, maafkan aku…. Terserah bagaimana sekarang keputusanmu padaku”
“Hyun, apakah kau masih mencintaiku?”
“Ya, Seoul, aku masih mencintaimu”
“Hyun, apakah kau masih menginginkan aku untuk menjadi istrimu?”
“Seoul…. Apakah aku masih pantas untuk menjadi calon suamimu?” tanya Hyun balik.
“Ya, aku masih mancintaimu Hyun, aku masih mengharapkan kaumenjadi suamiku” jawabku seketika sambil menatap kedua mata Hyun.
“Seoul…. Apakah aku masih pantas mencintaimu? Apakah aku masih pantas mendapat posisi itu?”
“Hyun, kau masih pantas, selama kau mau memperbaiki semua kesalahanmu”

Hyun hanya terdiam, dipalingkannya wajahnya ke arah keramaian di luar sana. Tatapannya kosong dan penuh sesal, dia seakan mencari jawaban atau kekuatan di ujung sana. Hyun masih tak bergeming, ku putuskan untuk pergi dan meninggalkan Hyun sendiri.

Aku berjalan pelan menyusuri taman yang berada di dekat café itu. Ku tengadahkan wajah dan memandang bulan dan bintang di atas langit malam. Udara dingin malam membuatku semakin sedih. Tak kulihat sosok Hyun menyusulku.

Tapi, tiba-tiba Hyun datang, menarik lenganku dan memelukku, erat. Dia berbisik di telingaku “Seoul, aku mencintaimu, aku tidak ingin kehilanganmu lagi, masih bersediakah kau menjadi istriku?” tanyanya lirih.
“Hyun…. Tentu saja aku bersedia” jawabku dengan sebuah senyuman.
Hyun melepas pelukannya, dia juga tersenyum manis kepadaku. Hyun mengecup keningku dan kami berpelukkan kembali, melepas kerinduan yang telah lama terpendam, membuang semua kekhawatiran, dan mencoba membangun masa yang baru lagi.

NB : Thanks buat irda handayani yang udah mengembangkan cerita ini dari sudut lain... Tapi ASLI bukan gaya ku banget ir hahaha XD......

0 komentar:

About Me

My photo
being who I am and loving what I'm doing coz you'll never be lonely if you learn to befriend yourself..... just remember to be yourself and remember throughout everything why you first wanted to do this...